Pada intinya entah mengakui atau tidak ini bukan tentang menghina alqur'an,
bukan pula tentang jokowi yg tidak bisa menemui para demonstran,
Akan tetapi lebih pada kepridaian masing- masing, dan pada kepribadian tertuduh..
Masalah menghina alquran ini menjadi besar karena sudah di tunggi oleh oknum² yg punya kepentingan politik, sebelumnya sebagian kelompok atau pesaing ahok menginginkan ahok gugur dalam pencalonan pilkada, kalaupun ahok lolos, ahok tidak terpilih lagi itu harapannya.
Mengenai masalah jokowi itu sebenarnya imbas dari Pilpres, yg saat itu pesaing Jokowi adalah Prabowo,
para pendukung pasangan Prabowo-Hatta masih terbawa sakit hati lantaran kalah dalam pertarungan Pilpres, oleh sebab itu sebenar apapun, seadil apapun, Kelompok Pasukan Sakit Hati itu akan mencari celah untuk merendahkan dan mencela jokowi, apalagi jokowi salah meraka akan membabi buta, dan jokowi akan di jadikan objek celaannya.
Dan itu wajar, bukan hanya pada masa Jokowi saat ini saja, dari sebelum jokowi pun hal seperti ini sudah ada.
Memang dulu kedua pasangan Capres Cawapres, Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK, menjadi pasangan yg bersaing sangat ketat. Bukan karena Jokowi ataupun Prabowo, tetapi karena Calon kedua Cawapres saat itu dari "kalangan" (saya sebut kalangan bukan berarti anggota suatu golongan) yg berbeda,
Hatta Rajasa dari kalangan bendera Biru, dan
Jusuf Kalla dari kalangan bendera Hijau, sebagai mana kita tau Bendera Biru dan Bendera Hijau ini merupakan kedua bendera ormas Islam terbesar di indonesia, karena itulah kedua pasangan Capres Cawapres saat itu menjadi pasangan tersengit yg pernah terjadi di indonesia.
Penulis tidak memihak, Saat itu tidak memilih (Golput)
Penulis hanya berharap Indonesia bisa damai dan hidup saling berdampingan, tanpa adanya perpecahan Suku Agama Ras dan Antar golongon, sebaiknya kita bisa bijak dalam menyikapi masalah yg berkembang, anarkis akan hanya menimbulkan dendam dan luka mendalam dari para korban.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar